Ateisme: Agama Masa Depan

Sumber: sinau.uinsby.ac.id

Oleh: Zaki, Prodi SAA

Saya bertanya-tanya, apa ada rakyatnya Firaun yang sempat mempertanyakan masa depan dari eksistensi Dewa Matahari pada masa itu? Jika ada, maka dia adalah filsuf yang namanya tak sempat masuk dalam buku-buku sejarah filsafat. Sebab, mempertanyakan masa depan agama pada zaman itu adalah hal yang luar biasa progresif. Mungkin saja tidak terbayang pada zaman itu bahwa agama mereka suatu saat akan menjadi sesuatu yang hilang.

Banyak sudah agama yang berkembang dan hilang di sepanjang peradaban manusia. Lantas apa yang kira-kira akan terjadi dengan agama di masa depan? Apakah Kristen atau Islam masih akan mendominasi? Entahlah, tapi mungkin saja ateisme akan beradu dalam klasemen papan atas. Lah kok bisa?

Hal ini memang terlihat sebagai spekulasi ngawur dan berangkat dari premis-premis yang mungkin meragukan. Tapi, karena saya adalah mahasiswa yang hobi bereksperimen dengan gagasan dan wacana, maka saya tidak akan berhenti untuk melakukan trial dan error dalam pengujian tersebut. Dengan laboratorium sederhana bernama warung kopi, saya mencoba melakukan refleksi. Lalu, di tengah seruputan kopi di ujung cangkir, Jibril seperti datang memberi sebuah wahyu, “Kabarkan bahwa ateisme akan mendominasi pada suatu zaman!” Bercanda kok, saya tidak siap untuk menjadi Nabi palsu abad ini.

Tapi seriusan, coba kita cari data-data tentang penambahan jumlah orang-orang yang mengaku ateis. Ambillah contoh riset dari WIN-Gallup International sepanjang 2005-2012,  rata-rata global dari 39 negara yang disurvei di kedua gelombang menunjukkan indeks religiositas turun sebesar 9% selama tujuh tahun ini. Sebagian besar pergeseran tidak menyimpang dari keyakinan mereka, tetapi mengaku tidak religius sambil tetap di dalam kepercayaan. Namun, ada juga peningkatan 3% dalam ateisme juga.[1]

Seperti gebetan, data-data semacam ini perlu diberi perhatian. Peningkatan 3% jangan dianggap sebagai sesuatu yang remeh. Sebab, hal-hal yang awalnya dianggap remeh telah membuktikan taringnya dalam mewarnai sejarah manusia. Andai saja seorang sejarawan modern menguasai bahasa latin, lantas kembali ke masa lalu, tepatnya pergi ke Roma pada abad ke-1 M. Ia lalu menghadap kaisar Nero Claudius Caesar Germanicus. Sejarawan itu memperingatkan bahwa, “2.000 tahun lagi, agama Kristen akan dipeluk oleh sepertiga umat manusia di seluruh dunia!” Kaisar Nero yang barusan terhibur setelah membunuh Petrus mungkin akan ngakak saat mendengarnya. Ia tentunya akan sulit membayangkannya, sebab pada saat itu ia amat berkuasa untuk memburu para pengikut agama Kristen.

Begitu juga masyarakat Konstatinopel di abad ke-7 M mungkin akan tertawa terbahak-bahak jika mendengar seseorang yang mengaku Nabi dari Madinah akan menguasai kota mereka kelak. Nabi Muhammad SAW bahkan dianggap gila oleh kaum Yahudi di Madinah ketika mengatakan hal itu di tengah kepungan musuh-musuh mereka dalam perang Khandak kala itu. Tidak tanggung-tanggung, Nabi mengatakan bahwa kelak Konstatinopel yang dikenal Surga Dunia kala itu, akan dikuasai oleh umat Islam, dan benar-benar direalisasikan oleh Muhammad al-Fatih pada abad ke-15.

Dua contoh di atas seperti memberi kode kepada kita untuk menimbang kemungkinan ateisme akan mendominasi sebagai agama di masa depan. Sampai di sini mungkin ada yang bertanya, “Loh, ateisme kan tidak percaya Tuhan, kok bisa disebut agama?” Karena bagi saya pribadi konsep tentang agama adalah hal yang dinamis. Saat seorang ateis menyatakan dirinya tidak bertuhan, sebenarnya ia telah bertuhan terhadap apa yang ia yakini dan dijunjung tinggi. Ia sedang mencari antitesis atas agama-agama yang sudah mapan. Seperti Abraham yang sedang mencari Tuhan dan sempat mengasosikannya kepada bulan, bintang, dan matahari. Pencarian itu adalah bukti dari ketidakpuasan terhadap apa yang disembah oleh kaum paganisme. Ketidakpuasan ini akan ada di dalam beberapa manusia di setiap zaman.

Bagi saya, definisi agama selalu bersifat historis dan dinamis. Definisi monoteisme jelas akan disangkal dan dianggap sesat oleh kaum paganisme, sebagaimana konsep ateisme yang disangsikan oleh kaum monoteisme. Perlu dilakukan pembaruan terus-menerus akan definisi agama. Sebab, definisi selalu terikat dengan epistem di tempat dan waktu yang berbeda. Apa yang dilakukan Emile Durkheim dengan tidak menyibukkan diri dengan definisi agama konvensional sebagaimana Sigmund Freud dan Talcot Parsons adalah salah satu contoh langkah progresif dalam mendefinisikan agama.

Seiring dengan menjamurnya ateisme dalam nalar modern kelak, tentunya akan membuat para akademisi harus meletakkan ateisme dalam formula Ibnu Khaldun, bahwa agama (termasuk ateisme) lebih merupakan kekuasaan integrasi, perukun, dan penyatu. Hal ini berarti bahwa ateisme akan dipimpin oleh seorang uskup atau memiliki para ulamanya. Maka, tidak sulit untuk membayangkan suatu saat, ateisme akan memiliki “Konsili Vatikannya” sendiri, atau akan ada Ormas-ormas ateis semisal FPA (Front Pembela Ateis) dan, bahkan bisa saja di tengah umat ateisme akan ada orang-orang fundamentalis yang ingin mendirikan khilafah ateisme.

[1] WIN-Gallup International, Global Index Of Religiosity and Atheism, 2012, Hal. 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *