Penulis: Fitriana Rose

Editor: Akmelia Rabbani

FORMA (29/04) – Di era digital ini, ruang dan waktu seolah tak lagi menjadi batas. Perempuan kini bisa bekerja, belajar, berkarya, bahkan memimpin hanya dengan modal perangkat kecil di genggaman tangan. Internet membuka pintu yang dulu terkunci rapat bagi mereka, panggung global tempat ide, suara, dan talenta perempuan bisa bersinar tanpa harus berpindah tempat.

Kita menyaksikan begitu banyak kisah inspiratif perempuan-perempuan yang membangun bisnis dari nol lewat media sosial, guru yang mengajar dari desa terpencil lewat video daring, aktivis yang menggaungkan isu kemanusiaan dan keadilan gender dari akun pribadi mereka. Teknologi telah menjadi alat pemberdayaan, memperluas definisi emansipasi yang dulu terbatas pada ruang fisik dan politik. Kini, emansipasi juga hadir dalam bentuk digital: merdeka bersuara, bebas berkarya, dan berdaya di ruang maya.

Namun, tidak semua yang bersinar itu benar-benar terang. Di balik layar yang bercahaya, ada bayang-bayang gelap yang mengintai. Era digital juga membuka jalan bagi bentuk-bentuk eksploitasi baru yang tak selalu tampak di permukaan. Perempuan di ruang digital tidak hanya dihadapkan pada tantangan teknologi, tapi juga harus berhadapan dengan norma, stigma, dan tekanan sosial yang dibalut dalam kemasan baru.

Media sosial menjadi contoh paling nyata. Platform yang awalnya menjanjikan ruang berekspresi justru kerap berubah menjadi medan kompetisi yang tak sehat. Algoritma mendorong konten yang menarik perhatian, dan sering kali tubuh perempuan dijadikan objek untuk meraih klik dan likes. Standar kecantikan dipoles dalam bentuk digital, menghasilkan tekanan yang memaksa perempuan untuk tampil ‘sempurna’ demi validasi semu. Tanpa disadari, perempuan sedang dikurung dalam ekspektasi yang tidak kalah menyesakkan dibanding era sebelum digital.

Eksploitasi juga hadir dalam bentuk yang lebih gamblang yang saya sebut pelecehan daring. Banyak perempuan mengalami kekerasan berbasis gender di internet, mulai dari komentar seksis, doxing, hingga penyebaran konten pribadi tanpa izin. Ironisnya, banyak dari mereka yang justru disalahkan ketika berbicara, dianggap “terlalu terbuka”, atau “mencari perhatian”. Ruang digital yang seharusnya menjadi tempat belajar dan tumbuh justru menjadi tempat yang tidak aman bagi sebagian perempuan.

Di dunia kerja digital, tantangannya pun belum usai. Meskipun banyak perempuan yang berhasil menempati posisi strategis, kesenjangan masih terasa. Perempuan sering kali tidak mendapatkan pengakuan setara, dibayar lebih rendah, atau dikekang oleh bias struktural yang sulit dihancurkan. Di balik layar laptopnya, banyak perempuan yang bekerja keras dua kali lipat hanya untuk diakui setara.

Namun, seperti sejarah panjang perjuangan perempuan, kita tidak pernah diam. Ruang digital juga menjadi arena perlawanan baru. Perempuan saling menggandeng, membentuk komunitas, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan. Gerakan seperti MeToo, kampanye anti-body shaming, edukasi seksualitas, dan literasi digital menjadi senjata untuk menantang ketimpangan. Ini adalah bentuk emansipasi paling tulus: ketika perempuan tidak saling menjatuhkan, melainkan saling menopang untuk tumbuh bersama.

Penting untuk kita sadari bahwa teknologi, sebesar apa pun pengaruhnya, hanyalah alat. Ia bisa menjadi pintu menuju kebebasan, tetapi juga bisa menjadi jerat yang membelenggu. Kuncinya ada pada bagaimana kita membentuk ekosistem digital yang adil, aman, dan manusiawi. Edukasi, kebijakan, dan kesadaran kolektif menjadi fondasi untuk memastikan bahwa perempuan tidak hanya “ada” di dunia digital, tapi juga benar-benar “berdaya”.

Karena perempuan bukan sekadar objek digitalisasi. Mereka adalah subjek perubahan. Mereka bukan hanya konsumen konten, tapi juga pencipta makna. Dan dalam setiap klik, setiap unggahan, setiap langkah kecil yang mereka ambil di dunia maya, tersimpan kekuatan untuk mengguncang dunia nyata.

Maka, saat kita bicara tentang perempuan di era digital, kita tidak hanya bicara tentang akses terhadap teknologi. Kita bicara tentang perjuangan yang belum selesai, tentang keberanian untuk tetap bersuara di tengah kebisingan algoritma, dan tentang harapan akan masa depan yang lebih setara.

Era digital adalah cermin. Dan saat perempuan menatap ke dalamnya, semoga yang mereka lihat bukan tekanan, bukan penilaian, bukan eksploitasi, melainkan pantulan dari diri mereka yang utuh: kuat, cerdas, dan tak tergantikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *