Reporter: Yuli Nasanti dan Ahmad Maulana Ali
Editor: Dennia Shinenauky Niza

(FORMA 23/04) – Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (DEMA FUF) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi” pada Rabu, 22 April 2026, di lapangan Futsal UINSA. Kegiatan ini bertujuan sebagai bentuk refleksi serta upaya membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap persoalan ketimpangan di Indonesia, khususnya di Papua.

Hengki Fernando, selaku Gubernur DEMA FUF menjelaskan bahwa pemilihan film Pesta Babi bukan tanpa alasan. Film tersebut dipilih karena sedang ramai diperbincangkan melalui karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono dan dinilai mampu menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa untuk melihat realitas yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

“Film ini menjadi bahan refleksi untuk mengetahui ketimpangan yang dialami saudara-saudara kita di Papua. Banyak orang menganggap kita sudah sejahtera, padahal masih ada masyarakat yang mengalami penindasan,” ujarnya.

Makki, perwakilan dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Surabaya menjelaskan bahwa kekerasan di Papua memiliki kemiripan dengan kekerasan yang pernah terjadi di Timor Timur pada masa pemerintahan Soeharto.

“Kekerasan di Papua memiliki pola yang mirip dengan yang terjadi di Timor Timur pada masa Orde Baru. Masyarakat adat berjuang mempertahankan tanahnya dari perampasan dan eksploitasi. Kehadiran PT Freeport Indonesia juga berdampak besar, mulai dari kerusakan lingkungan hingga hilangnya ruang hidup masyarakat,” ujar Makki.

Senada dengan itu, Zaldi Maulana, perwakilan dari KontraS Surabaya menegaskan bahwa generasi muda harus peka terhadap kekerasan dan diskriminasi yang dialami masyarakat Papua.

“Sebagai mahasiswa, kita harus berani menyuarakan penolakan terhadap kekerasan yang terus terjadi secara sistematis,” ujarnya.

Sebagai penutup, Isa Firdausi selaku ketua pelaksana berharap kegiatan ini mampu mengubah cara pandang mahasiswa terhadap masyarakat adat di Papua, dari yang sebelumnya kerap diposisikan sebagai objek menjadi subjek yang setara.

“Mereka juga memiliki hak, kekuasaan, serta menghadapi berbagai kesulitan sebagai bagian dari kemanusiaan,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *