Penulis: Ikvina Maya
Kupeluk rapuh yang tak kunjung sembuh,
berkabung sendu berpadu pilu.
Kucumbu luka yang menganga,
bersambung derita, berjejak di jiwa.
Menikmati dunia yang seolah suci,
mengais serpihan diri agar tak lenyap ditelan bumi.
Kubalut luka dengan tangan sendiri,
hanya ingin kembali utuh, meski ternodai.
Pedih…tak bersuara, nyaris tak punya nama.
Sakit bila diingat, mustahil dilupa.
Hampa…
kusapa diriku dengan, “Aku baik-baik saja.”
Dan malam pun tahu
bahwa kalimat itu dusta;
bergema beriringan dengan tawa,
menyelinap di antara bisingnya dunia.
Bukan untuk menipu siapa-siapa,
hanya agar aku tetap bertahan—
meski tak lagi tahu,
untuk apa.

