Reporter: Imron Amirullah dan Mutmainah
Editor: Thoriq Syauqillah
FORMA (2/05)– Ratusan massa yang tergabung dalam sebuah aliansi mulai dari mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui KAM UNESA, Universitas Telkom Surabaya (UTS) dan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) menggelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional di depan Gedung DPRD Jawa Timur, Jumat (1/5).
Dilansir dari akun Instagram Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI DK) Surabaya, forum konsolidasi pada Kamis (30/4) malam dinilai sebagai bentuk Ingkar janji kolektif. Titik aksi yang sebelumnya telah disepakati di Grahadi, secara mendadak dipindahkan oleh BEM UNAIR ke Gedung DPRD Jatim. Langkah ini dianggap mengabaikan kesepakatan forum dan hanya berfokus pada pengalihan massa.
Kritik tajam juga mengarah pada indikasi Kooptasi Gerakan. Penggunaan identitas BEM UNAIR yang menggantikan kop surat KASBI memicu pertanyaan terkait integritas lembaga. Konsolidasi yang seharusnya menjadi ruang dialog terbuka bagi masyarakat sipil justru terkesan didominasi narasi sepihak dan intervensi kepentingan tertentu.
Selain itu, pernyataan menteri di internal BEM yang membatasi partisipasi kelompok tertentu dinilai problematik dan otoriter. Sikap ini dianggap menciptakan perpecahan horizontal yang mencederai semangat inklusivitas gerakan rakyat.
Menanggapi tudingan tersebut, Ketua BEM UNAIR, Senja, menegaskan bahwa pengalihan lokasi dilakukan demi membersamai KASBI.
“Terkait transparansi informasi yang baru disebar pada H-1, ia berdalih hal tersebut merupakan langkah mitigasi terhadap penyusup dan intelijen. Agar massa tetap solid dan tidak terpecah,” ujarnya.
“Kami kan kalau dari UNAIR, itu kan pada akhirnya membersamai KASBI. KASBI waktu itu menghubungi kami. pada akhirnya kami jadinya di DPRD jatim,”tegasnya.
Mengenai polemik penggunaan almamater yang dituding sebagai simbol elitisme, Senja menyatakan bahwa atribut tersebut penting untuk mempermudah koordinasi, evakuasi, dan representasi mahasiswa sebagai bagian dari rakyat.
“Jadi sebetulnya narasi untuk pada akhirnya memakai almet ini membentuk simbol elitisme dan inklusifisme itu aku rasa bebas lah. Dalam arti kalau misal teman-teman mau mengatakan seperti itu bebas, silahkan. Cuma pada akhirnya inklusifisme dan elitisme itu kan ketika misal kita dalam tindakan itu membatasikan?. Cuma pada akhirnya kalau dari masa Unair dress code untuk masa aksi memang almet.” Tegasnya.
Di sisi lain, tuntutan substansial tetap menjadi poin utama aksi. Irlan Bahrianto dari KASBI menekankan fokus pada upah layak dan penghapusan sistem outsourcing dalam UU Cipta Kerja.
“untuk tuntutan hari ini seperti kaum buruh upah layak upah yg di bawah UMK, dan masih banyak pegusaha yg nakal dan ososingpun yg dari pemerintahan sistem itu untuk bisa di hapus undang-undang cipta kerja.”ujarnya.
Senada dengan itu, Adityo Bahil dari UNESA berharap momentum ini tetap menjaga marwah mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat.

