Reporter : Annisa Alfina Rosyida dan Febi Irma Safitri
Editor : Dennia Shinenauky Niza
FORMA (06/03) — Ratusan massa dari berbagai komunitas, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum memadati Taman Apsari, Surabaya, Kamis (05/03) dalam Aksi Kamisan ke-900. Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB tersebut mengusung tema “900 Kali Berdiri, Pelanggar HAM Harus Diadili” dengan subtema “Kami Bukan Sekadar Angka, Kami Melawan Impunitas yang Berkuasa.”
Aksi berlangsung khidmat meskipun gerimis sempat melanda lokasi kegiatan. Para peserta tetap bertahan mengikuti rangkaian acara hingga selesai, meski kegiatan tersebut juga berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadan. Annisa Eka, Koordinator Aksi Kamisan Surabaya ke-900 mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk merawat memori kolektif atas berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang hingga kini belum terselesaikan. “Aksi ini menjadi momentum untuk kembali mengingatkan publik tentang berbagai kasus pelanggaran HAM yang belum memperoleh keadilan,” ujarnya. Eka menjelaskan, aksi kali ini menghadirkan beberapa agenda tambahan yang jarang muncul dalam Kamisan sebelumnya. Selain orasi dan mimbar bebas, kegiatan juga diisi dengan refleksi, pertunjukan teater, serta kegiatan simbolik merawat ingatan. “Biasanya hanya ada orasi atau pembacaan puisi. Pada aksi kali ini kami menambahkan refleksi dan pertunjukan teater yang bekerja sama dengan Teater Penggalik,” jelasnya. demo mahjong 1 Partisipasi massa pada aksi ke-900 ini juga dipengaruhi oleh kehadiran komunitas penggemar musisi Hindia di Surabaya. Adele, Salah satu anggota komunitas tersebut mengatakan bahwa komunitasnya berinisiatif ikut meramaikan aksi dengan mengajak anggota fanbase untuk hadir. “Aksi Kamisan merupakan gerakan yang kolektif, tidak ada lembaga atau organisasi yang menaungi secara khusus. Namun pada Kamisan ke-900 ini, tim Hindia berinisiatif mengajak lebih banyak massa untuk hadir sehingga jumlah peserta meningkat hingga lebih dari 100 orang,” ujarnya. Rangkaian acara juga diisi dengan nyanyian bersama lagu-lagu Hindia serta penyalaan lilin sebagai simbol menjaga ingatan terhadap korban pelanggaran HAM. Bianda Nandaswari, Salah satu peserta aksi siswi dari SMP asal Sidoarjo, mengaku datang setelah mengetahui informasi kegiatan tersebut melalui media sosial. Ia menilai kegiatan seperti Aksi Kamisan penting sebagai ruang pembelajaran sejarah secara langsung. “Kita semua butuh kegiatan seperti ini sebagai bentuk pembelajaran sejarah yang nyata,” ujarnya. Sementara itu, Zaldy Maulana dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya berharap Aksi Kamisan dapat terus menjadi ruang publik bagi masyarakat untuk menyuarakan berbagai persoalan pelanggaran HAM di Indonesia. “ke depannya semoga Aksi Kamisan semakin ramai dan semakin banyak orang yang berani bersuara,” pungkasnya.

