Penulis: Moh. Faiqul Waffa

 

Barangkali aku hanyalah bayang yang singgah,

di kaca jendela pagi yang berembun.

Tiada rupa yang menetap,

namun sekejap cahaya menunda langkah waktu.

 

Kala siang mulai renta,

matahari beringsut perlahan ke ujung langit,

aku hadir bagai desir yang tak bernama

menyentuh, tanpa sempat dirasa.

 

Di retak bumi yang haus,

terdapat denyut kecil,

mengalir dengan sabar,

seakan mencari arti kata “teduh.”

 

Pernah kubertanya dalam diam

jika seseorang meneguk beningku,

adakah sejuk yang singgah,

atau getir yang tak sempat disebut?

 

Malam pun turun bagai tirai hitam,

menyembunyikan segala yang bersuara pelan.

Dan aku tetap di sini

tak bersinar, tak pula padam,

seperti cahaya yang dilihat silaunya, bukan sinarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *