Puisi Proses Protes

 

 

 

 

Angka

Kata pelopornya madzab Milea, angka adalah anasir alam semesta!

Pertama, sebab dengan angka semuanya akan tertata,

Kedua,lantaran IPK dan Usiahanya soal angka,

Ketiga, karena angka juga dapat menentukan banyaknya saudara.

Begitulah hipotesanya.

 

Kita

Pernah sedekat tumpukan tugas dengan mahasiswa.

sebelum jauh seperti diskusi dengan membaca.

Ke hadapannya dosen hanya untuk mengisi lembar absen

Di depannya adik kelas bersikappaling keren.

Senior yang selalu sok superior

Junior kebanyakan gembar-gembor.

 

Kampus

Sebuah pabrik yang dihuni oleh manusia yang merasa baik daripada gundik bertindik.

Definisinya:

Sebuah gedung legalitas pendidikan yang akreditasinya hasil fabrikasi, hanya nampak bagus saat menjelang visitasi.

”Tolong isi kuisionernya dengan baik, ya, Nak. Bantulah kampus meraih nilai A dari sentralnya birokrasi pendidikan.”

Judu acara: Genosida, pembodohan yang berjubah akademik lintas generasi dengan pendekatan simbiosis komensialisme.

Visi-misinya diproduksi oleh imajinasinya bapak-bapak dan ibu-ibu sosialita konferensi

“Visi kampus kita adalah menjadi universitas berkelas dunia dan yang berkualitas dalam mengimplementasikan ilmu-ilmu yang diajarkan untuk menyelesaikan konfrontasi dan polemik yang terjadi di tengah masyarakat.”

BULSHIT! Realitanya, fasilitas penunjang pembelajaran mahasiswa sama sekali tak punya kualitas. Belum lagi sistem oligarki yang mendarah daging di dalam struktur kepengurusan kampus. Dan juga, masalah-masalah kecil di dalam kantor sendiri tidak selesai-selesai.

“Misinya kampus kita adalah mencetak sarjana-sarjana muda yang siap pakai.” Lalu seorang mahasiswa semi-aktif dari fakultas Pinggiran bertanya, “Maaf Pak, Bu, ini kampus atau pabrik?”

Eranya sudah era modern, tapi peraturannya masih memakai era Megalitukum,

Himbauan, “Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan, kepada pewaris peradaban, harap membaca jurnal dan buku-buku di perpustakaan.”

Peraturan: wi-fi kampus dikunci,  supaya mahasiswa tidak bisa mengakses internet selama perkuliahan berlangsung.

Klarifikasi: “Maaf, ya, bukannya kami tak memberikan akses, takutnya mereka lalai dengan tugas dan bermain game saat sedang di kelas.” Kata salah satu seorang staff yang baru saja mengunduh film American Pie dari situs Ganool.

Pekerjanya lapar, tiap hari minumnya Marimas rasa nanas. Solusinya hanya sabar, itu solusi yang ditawarkan oleh orang yang tak waras.

Tanya: “Pak, Bu, apakah honor semester lalu masih horor?”

Jawab: “Mohon bersabar wahai buruh akademik honorer. Semuanya masih kami proses!”

Motto: Berikanlah upah kepada seorang pekerja setelah air keringatnya kadaluwarsa.

 

(bukan) Pramoedya

Didiklah pemerintah dengan perlawanan,

Didiklah mantan dengan kenangan,

Didiklah presentator dengan berbagai pertanyaan.

 

Prestasi Mahasiswa

Bukan cumelaude saat di wisuda

Atau hal-hal receh seperti mendapatkan nilai A.

Tapi keluar masuk kampus tanpa menunjukkan STNK

Dan berdebat soal keilmuan dengan dosen, sampai dosennya tidak bisa bicara.

 

*Darahkopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *